REVIEW JURNAL"PEMODELAN ARISTEKTUR TEKNOLOGI INFORMASI BERBASIS CLOUD COMPUTING UNTUK INSTITUSI PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA"
karya ACHMAD SHOLICHIN, ZAINAL A. HASIBUAN
PENDAHULUAN
Sebelum membahas lebih jauh tentang isi jurnal, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui tentang cloud computing dan arsitektur teknologi informasi yang akan digunakan dalam lingkup perguruan tinggi di Indonesia.
Teknologi cloud computing adalah suatu teknologi komputasi yang sudah ada berbasis internet sehingga memungkinkan pengguna untuk mengakses layanan yang diperlukan dimanapun dan kapanpun. Arsitektur teknologi informasi dalam suatu organisasi merupakan sebuah sistem yang menjelaskan bagaimana elemen teknologi informasi dan manajemen informasi bekerja satu sama lain sebagai satu kesatuan dalam melaksanakan suatu tujuan. Dengan adanya teknologi informasi inilah, jalannya suatu organisasi akan lebih mudah mencapai tujuan yang akan dicapai. Tujuan penerapan teknologi cloud computing dalam layanan teknologi informasi yang ada di perguruan tinggi di Indonesia adalah kemudahan dalam mengakses suatu layanan yang diperlukan dan juga pengumpulan data yang akan dilaporkan ke Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (DIKTI) menjadi lebih mudah dan efisien.
Dalam penggunaan teknologi cloud computing yang akan diterapkan, perlu adanya standarisasi arsitektur teknologi informasi yang akan digunakan di perguruan tinggi . Tidak adanya standarisasi struktur data yang diterapkan, konsolidasi data satu dengan yang lainnya, dan inkonsisten pengembangan sistem inforamasi akan dapat menimbulkan berbagai permasalahan dan hambatan.
Dalam menyelenggarakan proses penyelenggaraan pendidikan, Perguruan Tinggi memiliki hak untuk menentukan kebijakan masing-masing, namun pemerintah sebagai pembuat kebijakan menentukan standarisasi penyelenggaraan pendidikan melalui UU no. 20 tahun 2003 tentang Ssitem Pendidikan Nasional. Dalam undang-undang tersebut, dinyatakan dalam pasal 20 (ayat 2) bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Jadi, secara umum, sistem perguruan tinggi tidak jauh berbeda dalam menyelenggarakan proses pendidikannya. Kesamaan karakateristik inilah yang akan dijadikan sebagai dasar arsitektur teknologi informasi di perguruan tinggi di Indonesia.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka didapatkan konsep dalam menyusun model arsitektur teknologi informasi perguruan tinggi di Indonesia. Arsitektur tersebut terdiri dari arsitektur bisnis, arsitektur data, aristektur aplikasi, dan arsitektur teknologi. Pada penelitian ini akan dibahas:
Bagaiamana model arsitektur teknlogi informasi berbasis cloud computing yang sesuai untuk institusi perguruan tinggi di Indonesia.
Apa saja komponen arsitektur teknologi informasi berbasis cloud computing yang sesuai untuk insitusi perguruan tinggi di Indonesia.
Apa saja layanan yang diberikan oleh cloud computing provider dalam model arsitektur teknologi informasi di perguruan tinggi
Metodologi penelitian yang akan digunakan sebagai acuan adalah TOGAF Architecture Development Method (TOGAF ADM)yang disesuaikan dengan teknologi cloud computing.
ARSITEKTUR TEKNOLOGI INFORMASI
Arsitektur teknologi informasi merupakan organisasi dasar dari sistem insentif perangkat lunak.
TOGAF merupakan standar industri dan metode pengembangan yang dapat digunakan bebas oleh setiap organisasi yang ingin mengembangkan arsitektur perusahaan untuk digunakan di perusahaan sendiri. TOGAF telah dikembangkan secara berkelanjutan dari tahun 90-an oleh perwakilan dari berbagai organisasi pemakai dan vendor teknologi informasi terkemuka, bekerjasama dalam The Open Group’s Architecture Forum.
TOGAF menyediakan berbagai metode dan tools untuk membantu perusahaan dalam mempersiapkan, mengembangkan, menggunakan, dan memelihara arsitektur dan perusahaannya. TOGAF mendukung empat jenis arsitektur perusahaan, yaitu arsitektur bisnis, aristektur data, arsitektur aplikasi, dan arsitektur teknologi.
Arsitektur bisnis merupakan aristektur yang mendefinisikan strategi bisnis, proses bisnis utama dan pendukung organisasi serta pengelolaannya. Arsitektur data mendefinisikan struktur data dan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan, baik secara fisik maupun logis. Arsitektur aplikasi mendefinisikan cetak biru dalam pengembangan aplikasi dan sistem informasi dalam suatu perusahaan, termasuk yang berkaitan dengan proses bisnis perusahaan. TOGAF juga mendukung arsitektur teknologi yang menggambarkan perangkat lunak, perangkat keras, dan jaringan untuk mendukung proses bisnis dan arsitektur lainnya.
CLOUD COMPUTING
Peter Mell dan Tim Grance dari National Institue of Standards and Technology (NIST), Information Technology Laboratory mendefinisikan cloud computing sebagai suatu model yang mempermudah ketersediaan dan konfigurasi layanan baik berupa perangkat lunak, jaringan, server, media penyimpanan maupun aplikasi. Suatu layanan dapat dipasang dan dihilangkan dengan mudah . Model cloud computing memiliki lima karakteristik utama, yaitu On-Demand self service, Broad Network Access, Resource Pooling, Rapid Elasticity, dan Measured Service. Jika dilihat dari pengembangannya, cloud computing terdiri dari empat model, yaitu: private cloud, Community Cloud, Public cloud, dan Hybrid Cloud.
ARISTEKTUR TEKNOLOGI INFORMASI PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA
Kelemahan arsitektur teknologi informasi di Indonesia jika data harus diintegrasikan dengan perguruan tinggi lain. Dengan kata lain, struktur data yang dimiliki perguruan tinggi masih belum siap untuk diintegrasikan (lack of integration). Pelaporan data-data seperti data dosen, mahasiswa, dan data akademis lainnya masih dilakukan secara manual sehingga muncul beberapa permasalahan. Permasalahan yang sering muncul adalah tidak terbacanya data pada media yang digunakan. Selain itu, proses perubahan data belum bias dilakukan secara cepat.
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan terhadap 100 (seratus) perguruan tinggi di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa terdapat sembilan aplikasi sistem informasi yang banyak digunakan di perguruna tinggi di Indoesia.
Berdasarkan hasil pemetaan aplikasi sistem informasi di perguruna tinggi, terdapat beberapa aplikasi yang termasuk kategori Support yaitu Sistem Informasi Kemahasiswaan, SI Kepeegawaian, SI Inventaris Barang, SI Keuangan, Website, Email, dan Blog. Aplikasi tersebut cukup diperlukan di perguruan tinggi namun tidak terlalu mempengaruhi proses bisnis utama di perguruan tinggi.
Sedangkan pada kategori Key Operation, terdapat Sembilan aplikasi sistem informasi, yaitu sistem informasi Penerimaan Mahasiswa, Sistem Informasi Akademik, LMS (learning), Sistem Informasi Perpustakaan, Sistem Informasi Laboratorium, Sistem Informasi Kurikulum, Sistem Informasi Penelitian & PPM , Sistem Informasi Alumni dan Karir, SI Laporan Akademik (EPSBED). Kesembilan aplikasi di atas merupakan aplikasi inti (utama) yang harus tersedia dalam perguruan tinggi. Jika salah satu tidak tersedia maka proses bisnis perguruan tinggi akan terganggu. Oleh karena itu, Sembilan aplikasi tersebut menjadil layanan wajib di perguruan tinggi di Indonesia.
Sementara, ada tiga sistem informasi yang termasuk dalam kategori Strategic, yaitu Sistem Informasi Executive, Sistem Informasi Management Project dan Knowledge Mangement System. Penerapan sistem informasi tersebut akan menimbulkan daya saing (competitive advantages) bagi perguruan tinggi.
Sedangkan pada aplikasi High Potential, tidak terdapat sistem informasi. Saat ini di perguruan tinggi di Indonesia secara umum belum memiliki sistem informasi bersifat high potential. Dalam kaitannya dengan duni pendidikan, terutama perguruna tinggi, aplikasi high potential merupakan suatu aplikasi yang dapat menjadi dasar bagi pemerintah atau perguruan tinggi dalam mengambil suatu kebijakan.
HASIL PENELITIAN
Setelah dilakukan analisis terhadap perguruan tinggi di Indonesia serta memperhatikan penerapan konsep cloud computing, didapatkan hasil penelitian berupa arsitektur teknologi informasi yang dapat diterapkan di institusi perguruan tinggi di Indonesia.
ARSITEKTUR APLIKASI
Arsitektur di perguruan tinggi menggambarkan bagaimana aplikasi diletakkan dalam cloud, serta bagaimana hubungan antar aplikasi tersebut baik antar aplikasi dalam cloud maupun di luar cloud. Antara perguruan tinggi dan cloud dihubungkan dengan jaringan INHERENT
Jika dilihat secara rinci maka ada beberapa hubungan pada aplikasi dalam cloud, misalnya:
Sistem penerimaan mahasiswa baru akan berhubungan dengan sistem informasi akademik, terutama dalam hal konsolidasi data mahasiswa yang lulus seleksi ujian penerimaan mahasiswa baru.
Selain dipengaruhi dengan sitem penerimaan mahasiswa baru, sistem informasi akademik juga dipengaruhi oleh sistem pembelajaran (eLearning), sistem laboratorium (eLaboratory), sistem perpustakaan (eLibrary), sistem kurikulum (eKurikulum).
Selain hubungan aplikasi dalam cloud, terdapat hubungan timbal balik antara cloud provider dengan perguruan tinggi. Hubungan timbal balik terwujud dalam proses interaksi penggunaan sistem dan pemutakhiran data perguruan tinggi di cloud. Hubungan antara cloud provider dan perguruan tinggi dapat menggunakan jaringan pendidikan tinggi yaitu INHERENT.
ARSITEKTUR TEKNOLOGI
Keberhasilan penerapan teknologi informasi berbasis cloud computing, sangat dipengaruhi oleh teknologi yang digunakan’
Pada bagian Infrastruscture as a Service, terdapat beberapa komponen teknologi, yaitu hardware, software, network service dan infrastructure management. Komponen hardware menyangkut komponen fisik, seperti server, media penyimpanan, UPS, dan komponen pendukung lainnya seperti sumber listrik. Pada komponen software, terutama menyangkut sistem operasi beserta aplikasi pendukungnya, serta aplikasi virtual server yang memungkinkan penyedia spesifikasi server yang berbeda bagi pengguna sesuai kebutuhan. Komponen Network Service mengatur layanan komunikasi data melalui jaringan. Untuk perguruan tinggi, dapat menggunakan protocol TCP/IP yang sudah luas penggunaanya dan menggunakan jaringan INHERENT yang sudah tersedia. Komponen yang terakhir yaitu infrastructure management untuk mengatur penggunaan infrastruktur, termasuk informasi penggunaan infrastruktur.
Bagaian kedua yaitu Paltform as a Service, bagian ini terdiri dari beberapa komponen antara lain Integration dan Middleware yang berfungsi sebagai penghubung komunikasi antara satu komponen dengan komponen lainnya. Misal, antara PHP dan Java sebagai bahasa pemrograman dihubungkan dengan OBDC (Open Database Connectivity) agar dapat terhubung dengan berbagai jenis basis data. Mengingat kondisi perguruan tinggi di Indonesia, maka diusulkan untuk menggunakan platform berbasis web agar dapat diakses dengan mudah. Untuk membangun aplikasi berbasis web maka diperlukan tiga komponen dasar, yaitu web server seperti Apache dan IIS, application server berbasis server seperti PHP dan Java, serta basis data seperti MySQL dan Oracle.
Software as a Service merupakan bagian paling puncak dari model pengembangan aplikasi cloud computing. Pada bagian ini terdapat komponen struktur data dan metadata yang diperlukan oleh aplikasi, teradapat Sembilan aplikasi yang menjadi layanan Software as Service. Setiap aplikasi tersebut berhubungan dengan komponen Presentation yang mengatur tampilan aplikasi dalam berbagai media, seperti browser dan mobile phone. Selain itu, terdapat API (Application Program Interface) yang diperlukan untuk menghubungkan aplikasi dengan aplikasi lain yang mungkin dikembangkan oleh perguruan tinggi.
Selain berdasarkan model pengembangannya, arsitektur teknologi juga dapat dilihat dari sisi cloud provider. Cloud provider sebagai pihak yang menyediakan layanan berbasis cloud merupakan pihak yang paling penting dalam arsitektur teknologi informasi yang diusulkan untuk perguruan tinggi. Model arsitektur teknologi informasi yang diusulkan untuk perguruan tinggi, terutama untuk cloud provider, dibuat dengan menggunakan model Market-oriented Cloud Architecture. Model tersebut terbagi menjadi 4 lapisan utama, yaitu lapisan mesin atau perangkat fisik, lapisan virtual machines (VMs), lapisan SLA Resource Allocator dan yang terakhir lapisan pengguna atau user.
Pada lapisan 1 terdapat Infrastruktur fisik yang merupakan bagian paling dasar dari arsitektur teknologi informasi yang dihasilkan. Infrastruktur fisik berupa server-server aplikasi yang dibutuhkan, baik server untuk pemrosesan data, basis data, server web maupun jenis server lain yang diperlukan oleh setiap aplikasi. Seperti sudah dijelaskan di bagian sebelumnya, terdapat sembilan aplikasi yang diusulkan untuk diletakkan di dalam cloud. Ketangguhan server dalam arsitektur berbasis cloud sangat mempengaruhi kualitas layanan yang dihasilkan. Terlebih lagi untuk melayani seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang berjumlah 3000 lebih. Untuk meningkatkan ketangguhan dari server, dapat digunakan teknologi grid dimana setiap proses komputasi dapat dijalankan (dieksekusi) oleh beberapa server sekaligus. Dengan adanya pembagian proses tersebut, maka kecepatan proses akan lebih baik dibanding tanpa adanya teknologi grid.
Pada lapisan 2 terdapat Virtual Machines (Server Virtual). Konsep virtual marchine atau virtualization akan meningkatkan ketersediaan layanan TI dan akan menghemat jumlah infrastruktur fisik yang diperlukan. Dengan teknologi virtualisasi juga memungkinkan setiap client atau pengguna layanan secara virtual memiliki kuasa penuh atas server-nya sendiri, walaupun secara fisik harus berbagi sumber daya dengan client yang lain. Sedangkan Lapisan 3 merupakan SLA Resource Allocator yang menjadi bagian dari arsitektur cloud yang bertugas mengatur ketersediaan layanan untuk setiap pengguna. Bagian ini merupakan bagian yang menghubungkan antara aplikasi, sistem informasi atau layanan yang disediakan oleh cloud provider dengan cloud consumer yaitu pihak perguruan tinggi. Bagian ini juga yang bertanggung jawab menerima permintaan layanan dari pihak perguruan tinggi, menganalisis kelayakan permintaan tersebut dan menanggapi permintaan.
Pada Lapisan 4 terdapat User atau Pengguna layanan yaitu seluruh perguruan tinggi yang terdaftar di Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (DIKTI). User atau pengguna dapat mengajukan suatu layanan yang dibutuhkan oleh perguruan tingginya. Sebaliknya pengguna juga dapat mengajukan penghentian suatu layanan jika sudah tidak diperlukan. Pengaturan layanan oleh pengguna dapat dilakukan melalui suatu portal atau aplikasi yang disediakan oleh cloud provider.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan dan penelitian yang sudah dilakukan, maka secara singkat dapat disimpulkan bahwa:
Dengan jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang cukup banyak, maka arsitektur teknologi informasi yang paling sesuai untuk diterapkan adalah arsitektur yang berbasiskan layanan (service oriented architecture) dan menggunakan teknologi virtualization dan grid computing.
Perguruan tinggi di Indonesia memiliki 9 (sembilan) sistem informasi utama yang sebaiknya diletakkan di-cloud, sehingga akan menghemat biaya pengembangan maupun implementasinya. Kesembilan sistem informasi tersebut adalah (1) sistem informasi penerimaan mahasiswa baru, (2) sistem informasi akademik, (3) sistem e-learning, (4) sistem informasi perpustakaan, (5) sistem informasi laboratorium, (6) sistem informasi kurikulum, (7) sistem informasi penelitian & pengabdian masyarakat, (8) sistem informasi alumni dan karir, dan (9) sistem informasi pelaporan akademik (EPSBED).
Dengan menggunakan framework pemodelan arsitektur cloud berbasis kebutuhan pengguna, dihasilkan suatu model arsitektur teknologi informasi untuk perguruan tinggi di Indonesia yang terdiri dari arsitektur bisnis, arsitektur data, arsitektur aplikasi dan arsitektur teknologi.
Dengan penggunaan konsep cloud computing, arsitektur teknologi informasi yang dihasilkan akan menyelesaikan permasalahan redundancy sistem informasi, tidak adanya konsolidasi dan standardisasi data serta inconsistency dalam pengembangan sistem informasi. Bagi perguruan tinggi, dengan model arsitektur yang dihasilkan akan bermanfaat yaitu penghematan biaya pengembangan aplikasi. Selain itu, dengan adanya pihak ketiga yang membangun aplikasi, maka perguruan tinggi dapat lebih fokus terhadap proses bisnis utamanya, yaitu menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.